SISTEM INFORMASI SEBAGAI PENDUKUNG PENGAMBILAN KEBIJAKAN

 A. Pengertian Pengambilan Keputusan

Pengambilan  keputusan  merupakan  proses  pemilihan  alternatif  tindakan  untuk mencapai  tujuan  atau  sasaran tertentu.  Pengambilan  keputusan  dilakukan  dengan pendekatan   sistematis   terhadap   permasalahan   melalui   proses   pengumpulan   data menjadi  informasi  serta  ditambah  dengan  faktor – faktor  yang  perlu  dipertimbangkan dalam  pengambilan  keputusan.  Menurut Herbert  A.  Simon  (Kadarsah,  2002:15 - 16), tahap – tahap yang harus dilalui dalam proses pengambilan keputusan sebagai berikut:

a) Tahap Pemahaman (Inteligence Phace)

Tahap   ini   merupakan   proses   penelusuran   dan   pendeteksian   dari   lingkup problematika   serta   proses pengenalan   masalah.   Data   masukan   diperoleh, diproses dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.

b) Tahap Perancangan (Design Phace)

Tahap  ini  merupakan  proses  pengembangan  dan  pencarian  alternatif  tindakan/ solusi  yang  dapat  diambil.  Tersebut merupakan representasi kejadian  nyata  yang disederhanakan,   sehingga   diperlukan   proses   validasi   dan   vertifikasi   untuk mengetahui keakuratan model dalam meneliti masalah yang ada.

c) Tahap Pemilihan (Choice Phace)

Tahap  ini  dilakukan  pemilihan  terhadap  diantara berbagai  alternatif  solusi  yang dimunculkan  pada  tahap  perencanaan  agar  ditentukan  /  dengan  memperhatikan kriteria – kriteria berdasarkan tujuan yang akan dicapai.

d) Tahap Impelementasi (Implementation Phace)

Tahap ini dilakukan penerapan terhadap rancangan sistem yang telah dibuat pada tahap perancanagan serta pelaksanaan alternatif tindakan yang telah dipilih pada tahap pemilihan.

Berikut beberapa definisi SPK atau DSS menurut para ahli:

✓ Menurut Moore and Chang, SPK dapat digambarkan sebagai sistem yang berkemampuan mendukung analisis ad hoc data, dan pemodelan keputusan, berorientasi keputusan, orientasi perencanaan masa depan, dan digunakan pada saat-saat yang tidak biasa.
✓ Menurut Mann dan Watson, Sistem Penunjang Keputusan adalah Sistem yang interaktif, membantu pengambilan keputusan melalui penggunaan data dan model-model keputusan untuk memecahkan masalah-masalah yang sifatnya semi terstruktur dan tidak terstruktur.
✓ Menurut Maryam Alavi dan H.Albert Napier, Sistem Penunjang Keputusan adalah suatu kumpulan prosedur pemprosesan data dan informasi yang berorientasi pada penggunaan model untuk menghasilkan berbagai jawaban yang dapat membantu manajemen dalam pengambilan keputusan.
✓ Menurut Keen, P.G.W. mendefinisikan DSS sebagai suatu produk dari proses pengembangan dimana pengguna DSS, pembangun DSS, dan DSS itu sendiri mampu mempengaruhi satu dengan yang lainnya, dan menghasilkan evolusi sistem dan pola-pola penggunaan.
✓ R. Terrymengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah sebagai pemilihan yang didasarkan kriteria tertentu atas dua atau lebih alternatif yang mungkin.

 

B. Sistem Pengambilan Keputusan

Sistem    Pendukung    Keputusan    merupakan   suatu  sistem    interaktif    yang mendukung keputusan dalam proses pengambilan keputusan melalui alternatif – alternatif yang  diperoleh  dari  hasil  pengolahan  data,  informasi  dan  rancangan  model.  Dari pengertian sistem pendukung keputusan maka dapat ditentukan karakteristik antara lain :

1) Mendukung  proses  pengambilan  keputusan,  menitikberatkan  pada management  by perception
2) Adanya interface manusia/ mesin  dimana manusia  (user)  tetap  memegang  kontrol proses pengambilan keputusan.
3) Mendukung  pengambilan  keputusan  untuk  membahas  masalah  terstruktur,  semi terstruktur dan tak struktur.
4) Memiliki kapasitas dialog untuk memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhan.
5) Memiliki  subsistem-subsistem  yang  terintegrasi  sedemikian  rupa  sehingga  dapat berfungsi sebagai kesatuan item.
6) Membutuhkan struktur data komprehensif yang dapat melayani kebutuhan informasi seluruh tingkatan manajemen.

Dalam sistem pendukung keputusan terdapat tiga keputusan tingkatan perangkat keras  maupun  lunak.  Masing – masing  tingkatan  berdasarkan  tingkatan  kemampuan berdasarkan  perbedaan  tingkat  teknik, lingkungan  dan  tugas  yang  akan  dikerjakan. Ketiga tingkatan tersebut adalah ;

a) Sistem Pendukung Keputusan (Specific DSS )
b) Pembangkit Sistem Pendukung (Keputusan DSS Generator)
c) Peralatan Sistem Pendukung Keputusan

 

C. Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan ( DSS )

Sistem  adalah kumpulan  dari  elemen - elemen  yang  berinteraksi  untuk mencapai suatu  tujuan  tertentu.  Keputusan  adalah  tindakan  pilihan  diantara  alternatif  untuk mencapai  suatu  tujuan.  Sistem  pengambilan  keputusan  didefinisikan  sebagai  suatu sistem  berbasis  komputer  yang  interaktif,  membantu  pengambilan  keputusan  dengan menggunakan  analisis  data - data  guna  memecahkan  masalah.  Sistem  pengambilankeputusan muncul pada tahun 1971, sistem ini dikenalkan oleh Michael S. Scott Morton, G.  Athony  Gorry  dan  Peter  G.W.  Keen  dari  Massachussets  Institute  of  Technology (MIT).

 

Menurut  Sudirman  dan  Widjajani  (1996),  perkembangan  sistem  pendukung keputusan meliputi:

1) Sistem  pendukung  keputusan  kelompok  atau Group  Decision  Support  Systems (GDSS)  adalah  suatu  sistem  berbasis  komputer  untuk  membantu  secara  interaktif dalam  membuat  keputusan  terhadap  masalah-masalah  yang  tidak  terstruktur  bagi kelompok pembuat keputusan yang bekerja bersama-sama.
2) Sistem  pendukung  keputusan  eksekutif  atau excexutive  support  systems (ESS) adalah  sistem  pendukung  komprehensif  yang  mempunyai  kemampuan  lebih  dari melayani kebutuhan informasi eksekutif puncak. Sistem ini memberikan akses cepat atas informasi dan laporan manajemen.
3) Sistem   pendukung   keputusan   organisasi   atau organizational   decision   support systems. Terdapat  empat  fase  pendekatan  formal  dari  sistem  ini,  yaitu  dua  fase pertama  adalah  strukturlisasi  dan  pembentukan  kerangka  pengembangan  sistem. Fase ketiga merupakan prototype (model atau simulasi dari semua aspek yang akan dikembangkan). Fase ke empat merupakan implementasi.

 

Dalam  manajemen,  pengambilan  keputusan  memegang  peranan  yang  sangat penting.  Oleh  karena  keputusan  yang  diambil  oleh  seorang  manajer  merupakan  hasil pemikiran   akhir   yang   harus   dilaksanakan   oleh   bawahannya   atau   mereka   yang bersangkutan  dengan  organisasi  yang  ia  pimpin.  Penting,  oleh  karena  menyangkut semua  aspek  manajemen.  Kesalahan  dalam  mengambil  keputusan  bisa  merugikan organisasi.

 

D. Jenis, Tahapan, dan Langkah dalam Proses Pengambilan Keputusan
1) Jenis - jenis Keputusan
a) Keputusan berdasarkan struktur organisasai
✓ Keputusan  Administratif adalah  keputusan  yang  diambil  oleh  seorang administrator/manajer puncak sebagai pucuk pimpinan organisasi.
✓ Keputusan   Eksekutif adalah   keputusan   yang   diambil   oleh   manajer eksekutif  (pelaksana)  dalam  rangka  meneruskan  gagasan  administrator dalam   fungsinya   sebagai   koordinator   yang   mengkoordinasikan   para manajer operatif.
✓ Keputusan Operatif adalah keputusan yang diambil oleh manajer operatif dalam  rangka pelaksanaan  gagasan,  arahan,  dan  panduan manajer eksekutif.
✓ Keputusan  Teknis.  Keputusan  ini  derajatnya  paling  rendah  yang  diambil oleh  para  pengawas  atau  mandor.  Sesuai  dengan  namanya,  keputusan ini mengenai masalah - masalah teknis.

 

 

 

b) Keputusan berdasarkan kondisi dan situasi
✓ Keputusan menurut sistem yaitu model sistem dimana keputusan diambil sifatnya tertutup dan terbuka.

 

2) Tahap - tahap dalam pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Tahap  pemahaman  (Intellegence) yaitu  proses  pemahaman  terhadap  masalah dengan  mengidentifikasi  dan  mempelajari  masalah  terhadap  lingkungan  yang memerlukan  keputusan  dari  data  dan  fakta  yang  ada,  mengolah  data  dan mengujinya   untuk   dijadikan   petunjuk   dalam   menemukan   masalah   yang sebenarnya sehingga diharapkan dapat mempermudah mencari solusinya.
b) Tahap   perancangan   (Design) adalah   proses   pengembangan,   analisis,   dan pencarian alternatif tindakan atau solusi yang mungkin diambil.
c) Tahap pemilihan (Choice) yaitu proses pemilihan salah satu alternatif solusi yang dimunculkan pada tahap perancangan untuk menentukan arah tindakan dengan memperhatikan kriteria-kriteria berdasarkan tujuan yang akan dicapai pada tahap implementasi.
d) Tahap  penerapan  (Implementation) yaitu  tahap  pelaksanaan  atau  penerapan alternatif  tindakan  yang  dipilih  untuk  menyelesaikan  permasalahan  yang  telah diidentifikasikan.

 

3) Langkah-langkah    dalam    proses    pengambilan    keputusan    dalam    rangka memecahkan masalah yang rumit dan sulit
a) Identifikasi masalah

Dalam proses pengambilan keputusan, pertamatama masalahnya harus benar-benar jelas, harus jelas pula perumusannya.

b) Pengumpulan data

Untuk  memecahkan  masalah,  data  sangat  diperlukan,  karena  inilah  pentingnya sistem informasi dalam suatu manajemen.

c) Analisis data

Data  yang  sudah  terkumpul kemudian  diolah  dengan sistematis,  sesuai  dengan pertanyaan yang dirumuskan pada tahap identifikasi masalah tadi.

d) Penentuan alternatif

Data  yang  sudah  dianalisa  tadi  menimbulkan  beberapa  alternatif  jawaban  yang harus diambil salah satu yang menurut pertimbangan paling baik.

e) Pelaksanaan alternatif

Jika  alternatif  telah  diputuskan,  maka  langkah  selanjutnya  adalah  pelaksanaan alternatif  tersebut  yang  menghendaki  direalisasikannya  dalam  bentuk  kegiatan-kegiatan.

 

 

 

f) Penilaian

Penilaian  atau  evaluasi adalah  tahap  akhir  proses  pengambilan  keputusan. Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan yang dilaksanakan cocok dengan perencanaan.

 

E. Decision Support System (DSS)

Decision Support System (DSS) merupakan salah satu produk perangkat lunak yang dikembangkan secara khusus untuk membantu manajemen dalam proses pengambilkeputusan. Sesuai namanya, tujuan digunakannya system ini adalah sebagai “second opinion” atau “information source” yang dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan sebelum seorang manajer memutuskan kebijakan tertentu.

Pendekatan yang paling sering digunakan dalam proses perancangan sebuah DSS adalah dengan menggunakan teknik simulasi yang interaktif, sehingga selain dapat menarik minat manajer untuk menggunakannya,diharapkan system ini dapat merepresentasikan keadaan dunia nyata atau bisnis yang sebenasrnya. Hal yang perlu ditekankah adalah bahwa keberadaan DSS bukan untuk menggantikan tugas-tugas,tetapi untuk menjadi sarana penunjang (tools) bagi mereka.

Sprague dan Carlson mendefinisikan DSS dengan cukup baik,sebagai sistem yang memiliki lima karakteristik utama (Spragueet.al.,1993):

➢ Sistem yang berbasis komputer.
➢ Dipergunakan untuk membantu para pengambil keputusan
➢ Untuk memecahkan masalah- masalah rumit yang “mustahil” dilakukan dengan kalkulasi manual.
➢ Melalui cara simulasi yang interaktif.
➢ Dimana data dan model analisis sebagai komponen utama.

 

Adapun Prinsip Dasar DSS adalah sebagai berikut:

a. Struktur Masalah Sulit untuk menemukan masalah yg sepenuhnya terstruktur atau tak terstruktur - area kelabu Simon. Ini berarti DSS diarahkan pada area tempat sebagai besar masalah berada. 
b. Dukungan Keputusan DSS tidak dimaksudkan untuk menggantikan manajer. Komputer dapat diterapkan pada bagian masalah yang terstruktur, tetapi manajer bertanggung jawab atas bagian yang tidak terstruktur. 
c. Efektivitas Keputusan waktu manajer berharga dan tidak boleh terbuang, tetapi manfaat utama menggunakan DSS adalah keputusan yg baik.

 

Decision Support System tidak dimaksudkan untuk menggantikan manajer. Komputer dapat diterapkan pada bagian masalah yang terstruktur, tetapi manajer bertanggung jawab atas bagian yang tak terstruktur – menerapkan penilaian atau intuisi, dan melakukan analisis.Manajer dan komputer bekerjasama sebagai tim pemecahan masalah dalam memecahkan masalah yang berbeda di area semi terstruktur yang luas.

Tujuan dari DSS bukanlah untuk membuat proses pengambilan keputusan seefisien mungkin. Waktu manajer berharga dan tidak boleh terbuang, tetapi manfaat utama menggunakan DSS adalah keputusan yang lebih baik.Ketika membuat keputusan, manajer tidak selalu mencoba yang terbaik. Sejumlah model matematika akanmelakukannya untuk manajer. Namun, dalam banyak kasus manajerlah yang harus memutuskan alternatif mana yang terbaik. Manajer mungkin saja menghabiskan waktu ekstra untuk memperluas solusi sehingga mencapai optimum, tetapi ketelitian yang meningkat senilai dengan waktu dan usaha yang telah dikeluarkan. Manajer menggunakan pertimbangan dalam menentukan kapan suatu keputusan akan berkontribusi pada suatu solusi masalah.

Decision Support System banyak diterapkan di organisasi-organisasi yang sudah mapan. Banyak cara yang digunakan untuk menerapkan DSS guna membantu mempertajam proses pengambilan keputusan. Kapabilitas yang melekat pada DSS sangat membantu organisasi-organisasi yang menggunakannya untuk memungkinkan terciptanya koordinasi proses kegiatan baik internal maupun eksternal dengan cara yang lebih akurat.

Penggunaan DSS dimaksudkan untuk membantu manajer tingkat tinggi dan menengah dalam mengambil keputusan yang bukan merupakan operasi rutin. DSS mampu melakukan penyerapan informasi dari basis data, rekonfigurasi data, kalkulasi, analisis statistik, optimasi, analisis statistik nonprobabilistik (what if analysis), dan why analysis yang dilakukan melalui program Artificial Intelegent. Oleh karena itu, penggunaan DSS ini dengan tepat akan meningkatkan efektivitas keputusan yang dibuat manajer dan mendorong efisiensi dari proses pembuatan keputusan tersebut. Jadi, DSS akan dapat menciptakan suatu dimensi dukungan bagi pengambilan suatu keputusan baik yang bersifat taktik maupun strategik.

Seorang manajer yang menggunakan DSS dapat menggunakan model-model untuk eksperimen secara interaktif dengan data yang relevan, misalnya dengan mengubah nilai dari faktor-faktor tertentu dan mengamati hasil-hasilnya. DSS memungkinkan manajer untuk memperoleh berbagai perspektif mengenai situasi masalah rumit dan melaksanakan interaksi dari faktor-faktor yang signifikan. Seorang manajer dengan demikian dapat menemukan dan mengevaluasi dengan cara yang lebih baik terhadap pilihan keputusan alternatif.

DSS berperan penting bagi manajer dalam membantu dalam meningkatkan efektivitas proses pengambilan keputusan. DSS dirancang dengan menekankan pada aspek fleksibilitas serta kemampuan adaptasi yang tinggi, sehingga mudah disesuaikan dengan kebutuhan pemakai.

Komputer saat ini merupakan salah satu business partner yang paling dekat dengan fungsi marketing dan menjadi bagian integral fungsi tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan telah melakukan puluhan miliar dolar dalam menerapkan sistem software manajemen hubungan pelanggan, seperti untuk memfasilitasi keputusan terkait sumber daya di bidang pemasaran. Apabila pengambilan keputusan tersebut tidak dilakukan secara hati-hati, maka sistem pengambilan keputusan individu dan organisasi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Situasi ini menyebabkan banyaknya peluang untuk penelitian mengenai kegunaan DSS di suatu perusahaan.

F. Studi Kasus Sistem Informasi Sebagai Proses Pengambilan Keputusan

 

PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI SEBAGAI SARANA INTERAKSI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN (Studi Kasus Penetapan Peserta Sertifikasi Guru Pada Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik)

 

Untuk dapat menyeleksi para guru yang berhak mengikuti Pelatihan sertifikasi Guru mata pelajaran pendidikan Agama Islam, maka diperlukan adanya sistem yang terkomputerisasi untuk membantu pihak Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik Seksi Pendidikan Agama Islam dalam mengambil keputusan untuk menentukan para guru Pendidikan Agama Islam yang berhak mengikuti sertifikasi dan menerima tunjangan profesi guru. Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) yang digunakan di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik menggunakan dua sistem informasi Guru Agama Islam yakni Education Management Information System (EMIS) serta Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama Islam (SIAGA) yang semuanya terkomputerisasi. Yang mana Sistem Informasi EMIS ini kegunaannya dalam proses penentuan nama- nama guru yang berhak dalam mengikuti Pelatihan Sertifikasi Guru mata Pelajaran PAI oleh karena itu guru PAI haruslah mengisi data EMIS ini terlebih dahulu sebelum mengisi data SIAGA dan Sistem Informasi SIAGA ini sebagai alat dalam memproses kelengkapan data dan Administrasi setelah penetapan peserta di tentukan, jadi kedua sistem ini salim mengikat dan saling membutuhkan dalam proses penetapan peserta sertifikasi.

 

Tujuan Data EMIS adalah untuk mengintegrasikan informasi yang berkaitan dengan manajemen kegiatan pendidikan, dan untuk membuatnya tersedia dengan carayang komprehensif namun ringkas untuk berbagai pengguna dalam pembentukan bagian Data dan Informasi Pendidikan ini adalah untuk memperluas cakupan dan sasaran pendataan EMIS. Pada awal perkembangannya, EMIS memang hanya bertugas dalam pengumpulan dan pengelolaan data Pengawas Guru Agama Islam pada Sekolah, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) pada Sekolah Umum yang mana Guru pendidikan ini pula mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan karena lembaga tempat guru mengajar ada di Sekolah Negeri dan Swasta di bawah naungan Dinas Pendidikan dan kebudayaan. Data EMIS ini dapat di akses oleh guru, kepala sekolah, perencana kurikulum, pejabat inspektorat, pengawas keuangan, perencana, penasihat kebijakan dan pemimpin politik, serta orang tua dan siswa. Dengan caraini, sumber daya informasi gabungan dari EMIS tersedia untuk seluruh masyarakat.

 

Pemanfaatan Sistem Informasi Dalam Seksi Pendidikan Agama Islam dalam mengambil keputusan Peserta Sertifikasi Guru PAI melalui Sistem Informasi EMIS PAI Sangatlah Bermanfaat karena EMIS merupakan Data dan Informasi yang menjadi Standar Pengukuran di Dirjen pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Hal ini menjadi acun bagi Seksi Pendidikan Agama Islam dalam Mengikuti Kebijakan yang ada dengan mengambil keputusan berdasarkan Data yang lengkap efektif, efisien, tepat guna, tepat sasaran, sederhana,, akurat, terpercaya dan tepat waktu yakni dari data EMIS guru PAI, oleh Karena Itu data guru PAI haruslah benar benar Valid dalam mengimput atau mengisi sehingga tidak menmpengaruhi keputusan yang akan di ambil oleh Pengelolah pendidikan. Sistem Informasi memberikan banyak manfaat dalam Proses pengambilan keputusan di Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Gresik dalam hal ini dalam pengambilan keputusan penetapan Peserta sertifikasi Guru Agama Islam.Diantaranya ada lima manfaat, dari lima tersebut membantu Operator atau Pengelolah Data EMIS dan pengelolah Data SIAGA dalam melakukan kegiatan Pengumpulan dan Administrasi guru Pendidikan Agama Islam, dan Pengambilan Keputusan oleh Kepala Seksi untuk di informasikan ataupun di tindak lanjuti. Adapun lima manfaat tersebut adalah ;

1. Memudahkan Memperoleh Data dan Informasi yang Efektif, Efesien dan Terkini 

Realitas dan efektifitas dalam memperoleh Data dan Informasi yang efektif, efesien dan terkini, Sistem informasi EMIS ini sangat bermanfaat bagi guru Sistem informasi ini guru dapat langsung mengimput data diri peribadi mulai dari data pendidikan kepegawaian sampai prestasi dan bahkan pelatihan yang perna di ikuti dengan data ini maka akan memudahkan seksi pais dalam pengambilan keputusan karna adanya data yang efektif efesien akurat dan tepat waktu sehingga guru tau akan kekurangan data yang di sajikan sehingga tidak mempengaruhi pengambilan keputusan, dan bagi seksi PAIS sendiri Dengan adanya Sistim informasi sangat membantu Pengelolah data seksi PAIS Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik dalam mengumpulkan data sesuai dengan waktu yang di tentukan, sistem informasi ini sagat mengefesiensikan waktu sehingga proses pengelolaan data bisa tepat waktu dan keakuratan datapun bisa dijamin kebenarannya.

2. Sebagai Alat yang mampu mengfilter persyaratan penetapan peserta Sertifikasi Guru, dan Pemberian Tunjagan Profesi Guru PAI serta Insentif bagi Guru Pendidikan Agama Islam 

EMIS merupakan suatu sistem informasi manajemen pendukung yang berfungsi untuk menyediakan data dan informasi yang akurat dan tepat waktu yang berisi informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan bidang pendidikan. Adapun untuk pendataan pendidik dan tenaga pendidik, secara khusus Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama menggunakan Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama Dalam hal memproses administrasi setelah di tentukan atau di putuskan peserta sertifikasi calon peserta Sertifikasi guru PLPG atau di kenal dengan istilah PPG. Adapun dalam kegiatan proses Admistrasi yang ada dalam seksi PAIS Misalnya Pencairan Tunjangan Guru pun mengunakan Aplikasi SIAGA PAI ini akan tetapi Pengambilan Keputusan penganggaran awal berdasarkan data yang ada di EMIS PAI.

3. Pengambilan Keputusan Seksi Pendidikan Islam

Berdasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor DJ.I/46/2009 Tentang Mekanisme Pendataan lembaga pendidikan Islam huruf a : bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas mutu pendidikan Islam dipandang perlu untuk menyusun perencanaan dan pengambilan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran; serta bahwa dalam upaya mencapai tujuan sebagaimana tersebut pada huruf a di atas perlu didukung adanya ketersediaan data dan informasi lembaga pendidikan Islam yang akurat. Dasar dari Dalam Surat Edaran Dirjen Pendis Nomor SE/DJI/PP.00.9/63/2013 Tanggal 24 Juli 2013 Tentang Kebijakan Pendataan Pendidikan Islam Satu Pintu melalui EMIS. Begitu pula dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 42 tahun 2016 tentang Organisasi dan tata kerja Kementerian Agama Bagian ketujuh Pasal 225.

 

Pelaksanaan Sistem Informasi pada Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik mengunakan Sistem Informasi dalam pengolahan data sebagai Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System). Ada dua Sistem Informasi pengolahan data yang digunakan yaitu Aplikasi EMIS (Education Management Information System) PAIS dan Aplikasi SIAGA (Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama Islam) yang semuanya terkomputerisasi dan melalui WEB. EMIS merupakan data dan informasi yang menjadi standar pengukuran di Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia.

Hal ini pun menjadi pedoman bagi Seksi Pendidikan Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gresik dalam mengikuti kebijakan yang ada dengan mengambil keputusan berdasarkan data yang akurat yakni dari data EMIS Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), oleh karena itu dalam menginput atau mengisi data Guru PAI haruslah benar benar valid sehingga tidak mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pengelola pendidikan. Dan SIAGA (Sistem Informasi dan Administrasi Guru Agama Islam) sendiri merupakan sistem informasi pendukung dalam hal Administrasi Guru PAI.

Komentar